0
Dikirim pada 04 Juni 2009 di Tauhid


 

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Abdul Hamid Al-Halabi

Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Banyak manusia pada saat ini, mereka hidup dalam kecemasan, ketakutan … kengerian … kehati-hatian … dan mereka tidak mengetahui sebab yang pasti dari semua ini, sesungguhnya hanyalah hal itu (timbul) dari perasaan mendalam yang menghantui mereka, baik di jalan, di rumah dan benteng mereka, atau dalam kehidupan mereka, dan saat kepergian dan kedatangan mereka (dari bepergian). Dan kalaulah mereka memandang dengan pandangan yang tinggi dan cermat… tentulah mereka akan mengetahui bahwa sebab utama jauhnya mereka dari keamanan … dan tenggelamnya mereka dalam kebalikannya adalah : Jauhnya mereka dari iltizam (konsekwen) dengan hukum-hukum Allah.

 

 

Allah berfirman.

Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [Al-An’am : 82]

Maka keamanan … dan petunjuk … adalah dua hal yang berdekatan yang tidak dapat dipisahkan jika lenyap salah satu dari keduanya maka lenyaplah yang lain … bahkan jika salah satu dari keduanya tipis maka tipislah yang lain.

Maka keamanan yang hakiki … bukanlah dengan banyaknya pasukan dan tentara … dan bukan pula dengan banyaknya penjaga dan senjata … kemanan yang hakiki hanyalah timbul dari jiwa mutma’innah (jiwa yang tenang), jiwa yang meridhai Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Maka -kalau begitu- keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, serta hidayah, mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Maka jika mereka tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kesyirikan saja, akan tetapi mereka melakukan perbuatan buruk, maka mereka memperoleh pokok hidayah, dan pokok keamanan, walaupun tidak mendapatkan kesempurnaan keamanan dan hidayah.

Dan pengertian ayat yang mulia itu (Al-An’am : 82) bahwasanya mereka yang tidak memperoleh dua perkara ini (keimanan dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kezaliman), maka mereka tidak memperoleh hidayah dan keamanan, justru yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kebinasaan.

Dan ayat yang agung ini (Al-An’am : 82) menjelaskan kepada kita pemahaman yang nyata pada firman Allah.

Artinya : Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” [Ali-Imran : 151]

Ini (terjadi) di dunia, walaupun mereka (orang-orang kafir) mempunyai benteng yang sangat tinggi lagi kokoh serta terjaga, dan mempunyai persenjataan, tentara, penjagaan dan kekuasaan….

Adapaun kelak di akhirat …

Artinya : Tempat kembali mereka ialah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” [Ali-Imran : 151]

Dan janji yang benar datangnya dari Allah yang Haq maka bagi orang-orang yang beriltizam (berpegang teguh) untuk mendapat keamanan yang hakiki.

Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur : 55]

Artinya : Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” [Al-An’am : 81]

Orang yang mendapatkan hidayah dan keyakinan …

Ataukah orang yang berbuat kerusakan dan pelindung-pelindungnya orang musyrik!?

Ataukah pengikut-pengikut mereka dari kalangan orang-orang yang berbuat kerusakan dan semisal orang-orang munafik!?


[Diterjemahkan dari majalah Al-Ashalah edisi 3 hal. 7-8, Disalin ulang oleh Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th I/No. 06. Diterbitkan : Ma’had Ali Al-Irsyad Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

Sumber www.almanhaj.or.id





Dikirim pada 04 Juni 2009 di Tauhid
comments powered by Disqus


connect with ABATASA