0
Dikirim pada 02 April 2009 di Fiqih

 

Shalat bukanlah sebuah ritual yang hanya di tujukan untuk kehidupan akhirat seorang muslim. Tetapi dia juga sebuah ibadah yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan dunia muslim itu sendiri. Shalat dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar , bahkan sangat berpengaruh terhadap prilakunya. Shalat adalah cermin bagi perbuatan seorang hamba. Baik buruk amal seseorang sangat bergantung dari shalatnya. Di samping itu , pengaruh shalat sangat berpengaruh terhadap kejujurannya dalam bermuamalah, melaksanakan amanah, berbuat baik kepada tetangga, akhlak , mementingkan orang lain , dan tidak menyakitinya. Pada akhirnya akan terwujudlah sebuah kebahagiaaan dan keselarasan di dalam sebuah rumah dan keluarga , dijalan dan masyarakat , bahkan di dalam ummat ini secara umum.
Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla Menghadapkan WajahNya Kepada Orang yang sedang Melakukan Shalat. Dari Al Harits bin Al Harits Al – Asy’ari ra, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
’’ Sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat …… lalu Yahya berkata : ’’ Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku dengan lima kalimat yang harus aku lakukan dan kamu sekalian lakukan….. dan sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk melakukan shalat , karena itu jika kalian sedang shalat janganlah berpaling , sesungguhnya Allah menghadapkan wajahNya kepada seorang hamba selama dia tidak berpaling,’’ ( HR At Tirmidzi , beliau berkata : ’’ hadist ini hasan shahih ).
Karena itu sudah seharusnya seorang muslim memberikan perhatian penuh kepada shalat. ada empat hal yang pokok yang Insya Allah kalau kita melaksanakannya akan mempunyai pengaruh kepada kita dalam kekhusyu’an shalat.
  1. Semampu Mungkin melaksanakan Shalat sesuai Dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam. Hal itu bisa terwujud dengan meneliti bab shalat di dalam buku hadits dan fikih , karena itu ketika seorang hamba Muslim sedang melakukan shalat dengan memenuhi tata cara , rukun – rukun dan wajib – wajibnya, maka dia akan merasakan bahwa dia sedang berjalan di atas petunjuk Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam.
    Dan selayaknya seorang manusia , dia harus selalu berusaha menapaki jalan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam, sehingga pada akhirnya dia akan merasakan manisnya amal tersebut. Hal itu karena tidak ada lagi perbuatan yang paling di cintai selain mengikuti Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkan ridha Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla kecuali dengan mengikuti jalannya.
    Di dalam riwayat Malik bin al-Huwairits ra dari Nabi shallallaahu ’alaihi wassalam beliau bersabda : ’’ Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat’’ ( HR Bukhari / 631 ).
  2. Menjaga Kekhusyu’an Di Dalam Shalat. Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla berfirman :
    ’’Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, ( yaitu ) orang – orang yang Khusyu’ dalam shalatnya. ( QS. Al Mu’minun 1-2 )Kekhusyu’an ini bisa di peroleh dengan berbagai hal. Sebagian ada di dalam shalat itu sendiri dan sebagian yang lain di luar shalat seperti :
  • Mengingat Kematian.
    Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Ingatlah kematian ketika anda sedang melakukan shalat, karena jika seseorang mengingat kematian ketika melakukan shalat , niscaya dia akan melakukan shalat dengan baik, lakukanlah shalat seperti orang yang tidak menyangka bahwa dia akan melakukan shalat yang lain ( karena meninggal ), dan jauhilah segala alasan yang menghalanginya’’ (HR Al Dailami di dalam kitab musnad al – Firdaus) Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam memerintahkan seorang muslim untuk melaksanakan shalat dengan selalu mengingat kematian di dalam shalatnya. Hal itu bisa menyebabkan dia akan melakukan shalat dengan baik , kematian menimbulkan rasa takut dalam jiwa, dan dengan kematian pula semua amal akan di tutup.
    Dan ada ketakutan menghadap Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla dengan membawa dosa sebanyak itu, yang memberati punggungnya. Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam:
    ’’ Lakukanlah shalat seperti shalat perpisahan seakan-akan kamu melihat Allah , jika kamu tidak melihatNya, maka Allah sesungguhnya melihatmu.’’ ( HR At Thabrani di dalam kitab al Ausath, al Baihaqi dan yang lainnya)
  • Merenungkan Makna kalimat yang Ada di Dalam Shalat.
    Ketika seorang hamba sedang mengucapkan ,’’ Allahu Akbar ’’, dia kan selalu membayangkan makna kalimat tersebut dan segala sesuatu yang menyangkut keagungan-Nya, ketika dia meminta perlindungan , dia akan selalu memikirkan makna yang terkandung dalam perlindungan tersebut , yaitu berharap dan memohon perlindungan kepada Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla yang Maha Mendengar , yang Maha Tahu , Dia-lah yang tahu apa yang di bisikkan syaitan.
    Dalam hal ini kita di tuntut untuk membuka buku – buku tafsir dan perkataan para ulama.
  • Meninggalkan Maksiat.
    Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla Berfirman: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
    [767]. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. [768]. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. Kemaksiatan merupakan penghalang yang merintangi kekhusyu’an dalam shalat.
    Sebuah hadits ;
    ’’ Dua orang yang shalatnya tidak akan melewati kepala mereka ( tidak di terima ) ; seorang hamba yang lari dari tuannya hingga dia kembali dan seorang wanita yang durhaka kepada suaminya hingga dia kembali ( taat ). ( HR At Thabrani ) Memperbanyak kebaikan bisa menjadikan shalat lebih baik dan lebih khusyu’, di antaranya adalah , sayang kepada anak yatim , mengusap kepalanya dan memberi makan.Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam ;
    ’’ Jika anda ingin memiliki hati yang lembut, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim’’ ( HR Ahmad , lihat ash Shahihah / 854 )
  • Tidak Banyak Tertawa , Karena Akan Mematikan Hati dan Kekhusyu’annya.
    Sebagaimana yang di ungkapkan dalam sebuah hadits :
    ’’ Janganlah banyak tertawa , karena banyak tertawa itu menjadikan hati mati’’ ( HR Ahmad , Tirmidzi dan yang lainnya ). Tertawa banyak di sebabkan dari hal-hal yang lucu, kalau hal itu teringat pada waktu shalat , akan dapat merusak kekhusyu’an shalat.
  • Tidak Terlalu Sibuk dengan Urusan Dunia.
    Tidak diragukan bahwa kesibukan tersebut akan mengurangi perhatian terhadap akhirat. Ambillah dunia secukupnya , jika anda sukses di dalam bisnis tertentu , sebaiknya tidak usah sibuk di dalam bisnis lain yang dapat menghilangkan konsentrasi pikiranmu dan melupakan hak Rabb-mu, juga melupakan hak dirimu sendiri, istri dan keluarga.
  • Banyak Membaca Al Quran dan Doa – doa yang Diajarkan Oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam.
    Karena semuanya itu akan melembutkan hati dan menjauhkannya dari syaitan.
  • Bersegera Untuk Mengerjakan Shalat.
    Sehingga tidak menjadikan dia berlari karena tidak ingin ketinggalan berjama’ah , yang pada akhirnya dia akan melaksanakan shalat dalam keadaan tidak tenang.
    Dari Abu Qatadah ra , ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Jika kalian akan mengerjakan shalat, maka kalian harus mendataanginya dengan tenang , janganlah mendatanginya sambil berlari, apa yang kamu peroleh lakukanlah dan apa yang terlewatkan sempurnakanlah. ( HR Bukhari / 908 dan Muslim / 603 )
  • Merapatkan dan meluruskan shaf ( barisan )
    Dari Abu Mas’ud ra ia berkata : ’’adalah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam mengusap pundak pundak kami dengan berkata :
    ’’ Luruskanlah shaf kalian dan janganlah berselisih sehingga hati kalian akan berselisih,’’ ( HR Muslim / 432 ), Jadi bengkoknya shaf akan mengakibatkan permusuhan dan pertentangan hati, kekurangan iman dan hilangnya kekhusyu’an.
    Sebagaimana lurusnya sebuah shaf termasuk sebagian dari kesempurnaan shalat.
    Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Karena lurusnya shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat.’’ ( HR Muslim / 433 )
  • .Memilih Pekerjaan Yang Cocok.
    Hal itu dapat di pertimbangkan dari berbagai segi;
  • Dari segi kehalalan , karena Allah , tidak menerima kecuali yang thayyib ( halal ), sedangkan makan barang yang haram dapat menjadikan do’a tidak terkabul dan kekhusyu’an sirna.
  • Pekerjaan tersebut tidak bentrok dengan waktu – waktu shalat , jika tidak , maka dia akan memberikan fatwa kepada dirinya sendiri boleh mengakhirkan shalat atau mengqadhanya jika waktu telah lewat walaupun itu karena kelalaian , atau mencari orang yang memberikan fatwa seperti itu.
  • Di usahakan mencari pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan jika sanggup, sehingga tatkala shalat menghadap Rabbnya dengan hati yang khusyu’.

 
  1. Melaksanakan Pada Waktunya Dengan Tidak Mengakhirkan Atau Melewati.
    Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla Berfirman :Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ( QS An-Nisaa ;103 ) Al Bukhari berkata : ’’ Maksudnya adalah waktu – waktu yang telah di tentukan kepada mereka.’’Dari Abu ’Amr asy-Syaibani, ia berkata : ’’ Pemilik rumah ini – beliau mengisyaratkan kepada rumah Abdullah- berkata : ’’ Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam, apakah amal yang paling di cintai Allah ? ’’ shalat pada waktunya’’ jawab beliau . ’’Kemudian apalagi ?’’ Tanya Abdullah. Rasulullah menjawab :’’ Berbuat baik kepada kedua orang tuanya’’. Abdullah bertanya lagi : ’’ Kemudian apalagi ?’’ . ’’Jihad di jalan Allah ’’. Jawab Rasulullah. Abdullah berkata : ’’ demikianlah Rasulullah menyampaikan kepadaku, seandainya aku menambah pertanyaan lagi, niscaya Rasulullah menambah jawabannya’’. ( HR Bukhari /527 dan Muslim / 85 ) Dari ’Ubadah bin ash-Shamit ra , ia berkata : ’’Aku bersaksi bahwasannya aku mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Lima shalat yang di wajibkan oleh Allah kepada hambaNya , siapa saja yang melakukan wudhu’nya dengan baik , dan melakukan shalat tersebut pada waktunya dengan menyempurnakan ruku’nya , sujudnya , dan kekhusyu’annya , maka Allah berjanji untuk memberikan ampunan kepadanya , dan siapa saja yang tidak melakukannya , maka tidak ada janji dari Allah sama sekali baginya. Jika Allah menghendaki , maka Dia mengampuninya , dan jika menghendaki Dia menyiksanya.’’ ( HR Malik, Abu Dawud , An Nasa-I dan Ibnu Hibban ).
  2. Selalu Melaksanakan Shalat Dengan Berjama’ah.
    Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla Berfirman: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’[44]. Yang dimaksud shalat berjama’ah dapat pula diartikan: Tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk. Dari Abud darda ra , ia berkata ; Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda ;
    ’’ Tidaklah tiga orang tinggal di kampung atau gurun yang mereka tidak mendirikan shalat jama’ah , kecuali mereka itu telah di kuasai syaitan , maka kamu harus shalat berjama’ah, karena srigala itu hanya memakan domba yang sendirian jauh dari kelompoknya.’’ ( HR Ahmad dan Abu Dawud di dalam shahiih Sunan Abi Dawud / 511 ). Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab Tafsirnya berkata : ’’Allah memerintahkan mereka untuk melakukan ruku’ dengan orang–orang yang selalu melekukannya dari ummat Muhammad . Jadilah kalian bersama mereka dari mereka . Dengan ayat ini kebanyakan ulama berdalil atas wajibnya shalat berjama’ah

Kendala Kekhusyu’an Dalam Shalat.
Terkadang kamu melakukan shalat di belakang imam yang tidak dapat melaksanakan rukun ( shalat ) dengan khusyu’ , maka bagaimana agar dirimu dapat melaksanakannya dengan lebih khusyu’? Hal tersebut bisa di capai dengan memanfaatkan waktu dan shalat yang lain, yaitu selain dari yang wajib. Karena itu kamu harus melaksanakan shalat sunnah , karena shalat – shalat tersebut merupakan kesempatan yang sangat besar dalam berlatih menciptakan kekhusyu’an, cobalah biasakan shalat dengan bacaan yang panjang, lama berdiri karena Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda : ’’ Sebaik – baik shalat adalah yang lama berdirinya ’’ ( HR Muslim / 756 )Selalulah melakukan shalat dengan melamakan ruku’ dan bersujud dan perbanyaklah do’a di dalam bersujud.
Adalah Rasulullah shalallahu ’alaihi wassalam berlindung kepada Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla dari shalat yang tidak khusyu’ , beliau berdo’a :
’’ Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak khusyu’ ( HR Muslim / 2722 ).

Kendala Kekhusyu’an :
  • Kurang yakin akan perjumpaan dengan Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla dan ( kurang yakin ) bahwa mereka akan kembali kepadaNya.
    Firman Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla:
    ’’ Dan mintalah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang–orang yang khusyu’, ( yaitu ) orang orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya. ( S Al Baqarah 45-46 )
    Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla menjelaskan sifat–sifat orang yang khusyu’, yaitu mereka yang meyakini akan berjumpa dengan Allah dan bahwasannya mereka akan kembali kepadaNya.
    Itu merupakan ilmu ( keyakinan ) yang kuat bahwa dia akan berjumpa dengan Allah dan akan kembali kepadaNya. Kurangnya yakin dalam hal ini merupakan penyebab kurangnya kekhusyu’an. Karena keyakinan tersebut akan menjadikan seseorang selalu meng-instrospeksi dirinya dengan baik, sehingga dia dapat malakukan shalat dengan khusyu’ dan dapat berperilaku dengan baik pula.
  • Bisikan Syaitan.
    Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Jika adzan di kumandangkan , syaitan lari dengan suara kentutnya sampai dia tidak mendengar suara adzan. Ketika adzan sudah selesai , maka dia akan kembali ketika iqamat di kumandangkan. Jika iqamat sudah selesai , maka dia akan kembali lagi , sehingga dapat membisikkan sesuatu kepada seseorang. Dia berkata : ’’ ingatlah kamu itu dan ini!’’ yaitu tentang sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya , sehingga orang itu tidak tahu berapa rakaat dia sudah melakukan shalat.’’ ( HR Bukhari / 608 dan Muslim / 389 )
    Di dalam riwayat Muslim Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :
    ’’ Sehingga seseorang tidak tahu bagaimana dia melakukan shalat ’’.
  • Lalai dan mengikuti hawa nafsu.
  • Perhatian yang lebih terhadap dunia.
  • Meninggalkan masjid dan jama’ah , hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam:
    ’’ ….Karena seekor srigala hanya akan memakan domba yang sendirian jauh dari kelompoknya.’’( HR Ahmad dan Abu Dawud di dalam Shahih Sunan Abi Dawud / 511 )
  • Lemahnya rasa cinta kepada saudara–saudara seiman karena Allah , hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam;
    ’’ Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, kalian tidak akan pernah masuk Surga, sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai , maukah aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukanya niscaya akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.’’ ( HR Muslim / 54 )
    Karena itu masuk ke dalam surga sangat erat hubungannya dengan saling mencintai di jalan Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla  , dan khusyu’ itu adalah salah satu jalan menuju surga. Karena itu , kekhusyu’an dan surga tidak akan di peroleh kecuali dengan memperkuat unsur – unsur kecintaan di jalan Allah .
  • Tidak meluruskan shaf dan merapatkannya.
  • Berbuat zhalim kepada orang lain dan tidak memberikan hak mereka.
  • Menengok dan menengadah pandangan ke atas.
    Dari Qatadah, sesungguhnya Anas bin malik meriwayatkan kepada mereka , ia berkata ’’ Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :’’ Mengapa orang – orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit di dalam shalat? Lalu perkataan Rasulullah makin keras dan berkata : ’’ Hendaklah mereka berhenti dari perbuatan tersebut atau penglihatan mereka akan di hilangkan ( di butakan ).’’ ( HR Bukhari /750 ) Dari Abu Hurairah ra , ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wassalam bersabda :’’ Hendaklah kaum itu berhenti dari mengangkat penglihatan mereka ke langit ketika berdo’a di dalam shala atau penglihatan mereka akan di hilangkan ( di butakan ).’’ ( HR Muslim / 429 )Di dalam sebuah hadist di ungkapkan :
    ’’ Dan sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’ala, ’azza wa jalla memerintahkan kalian untuk melakukan shalat, maka jika kalian melakukan shalat janganlah menoleh ( kekanan – kekiri ) karena sesungguhnya Allah menempatkan wajahNya tepat di depan wajah seorang hamba di dalam shalatnya selama dia tidak menoleh.’’
    ( Bagian dari hadist yang di riwayatkan oleh At Tirmidzi )
  • Shalat di atas sesuatu yang di hiasi atau di gambar.
    Dari ’Aisyah ra. Ia berkata : ’’ Sesungguhnya Nabi pernah mendirikan shalat dengan memakai pakaian yang bercorak. Kemudian beliau melihat corak tersebut , setelah selesai shalat beliau berkata : ’’ Bawalah baju ini kepada Abu Jahm dan ambilkan untukku baju kasar yang tidak bercorak milik Abu Jahm, karena baju yang tadi telah melalaikanku dari shalat.’’ ( HR Bukhari 373 dan Muslim/ 556 ). Dari Anas ra, ia berkata : ’’ Adalah qiram ( kain penutup dari wol yang berwarna dan bergambar ) milik ’Aisyah menutupi sebagian dari rumahnya, lalu Nabi shallallaahu ’alaihi wassalam berkata :’’ Lucutilah qiram ini , karena senantiasa gambar–gambarnya menggangguku di dalam shalat’’ ( HR Bukhari / 374 ).Wallahu’alam,

Semoga membawa manfaat.
Di rangkum Abu Aufa dari kitab : Ash – Shalaah wa Atsaruha fii Ziyaadati Al – imaaan wa Tahdziibi Al Nafsi , Penulis Husain bin ’Audah Al – ’Awayisyah , di terjemahkan Beni Sarbeni
 

 



Dikirim pada 02 April 2009 di Fiqih
comments powered by Disqus


connect with ABATASA